Hari ini adalah hari terakhir Karsa bermain dan tidur bersama putri mungil nan cantik yang masih berumur 1,5 tahun. Sejak pagi tadi Karsa memandikan Kaisa dengan kasih sayang lebih dari biasanya. Memberikannya baju tercantik yang dipunyai untuk putrinya itu. Terlihat betul Karsa ingin menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi putrinya dan tentu juga untuk dirinya sendiri. Dia menikmati benar setiap detik canda, senda gurau dan gaya lucu putri cantiknya Kaisa. Meski dengan airmata yang menetes jauh didalam lubuk hatinya. Diajaknya Kaisa untuk membereskan semua mainan dan perlengkapan kebutuhannya sendiri.
Hari ini adalah hari yang paling dilematis dalam pikiran Karsa. Tuntutan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk bisa menghidupi belahan nyawanya itu semakin menekan seiring dengan besarnya tuntutan perkembangan tumbuh besarnya Kaisa. Harga susu yang serasa sangat mahal bagi Karsa, menuntut untuk berpikir lebih keras dalam mengusahakannya. Ya, Karsa adalah seorang Ayah yang sendiri menghidupi anaknya selama satu tahun lima bulan ini. Ibu Kaisa terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya yang serba glamour, serta tuntutan dalam tuntunan keluarga besarnya yang lebih mengedepankan kemewahan. Kehidupan yang sangat bertolak belakang dari kepribadian Karsa.
Selama satu tahun lebih ini, Karsa bekerja dirumah sebagai seorang desainer sembari juga merawat Kaisa dengan penuh kasih sayang. Beruntung Karsa dulunya pernah menjadi desainer yang lumayan dikenal dibeberapa tempat sebelum tempat usahanya jatuh dan membuatnya hidup memulai dari nol kembali. Kembali dari nol dan harus menanggung semuanya sendiri. Sekian ratus juta rupiah hutang yang dideritanya dia tanggung dengan hanya bermodalkan komitmen dan keyakinan diri bahwa semua permasalahan pasti ada ujungnya. Karsa sangat bersyukur karena beberapa di antara temannya masih banyak yang mempercayakan pembuatan desain kepadanya. Maka semua dikerjakannya dengan sepenuh hati. "Semua demi Kaisa", begitu batinnya berdoa setiap saat.
Karsa sangat mengerti arti kata "orang tua", dia berusaha sebisa mungkin memberikan yang terbaik demi kehidupan putrinya kelak. Dengan prinsip keindahan yang selalu dia bayangkan dan terapkan, Karsa selalu bersemangat kembali setiap ingat Kaisa. Putri mungil yang selalu tertawa dan jarang menangis. Tanpa terasa Kaisa sudah tidur dipelukannya. Dipandanginya Kaisa dengan penuh cinta. "Nak, Ayah sungguh mencintaimu...", bisik Karsa lirih ditelinga putri cantiknya itu. Perlahan bibir mungil Kaisa membentuk segurat senyum seakan menjawab bisikan Ayahnya dengan senyum indah yang membuat Karsa tak kuasa menahan tangisnya. "Maafkan Ayah nak, hari ini Ibumu datang untuk mengambilmu", Ucap Karsa. "Ayah yakin dengan Ibumu kamu akan lebih baik Nak, untuk segala hal".
Terbayang dalam pikiran Karsa, selama setahun lebih dia dan putrinya hidup berdua di sebuah kamar sempit. Berjuang setiap detiknya memenuhi kebutuhannya dan Kaisa, mempelajari kehidupan seorang anak agar bisa mengerti dan merawatnya dengan baik. "Tuhan, ijinkan kali ini aku mengeluh", bisik Karsa. Dia sangat takut berpisah dengan Kaisa, namun untuk saat ini dia tak mengerti harus bagaimana. Tuntutan harus bekerja sembari membesarkan anak tak bisa disikapinya dengan baik, hingga takut anaknya makin terlantar karenanya. Banyak buku yang berhubungan dengan orang tua tunggal dia pelajari, berharap bisa untuk mempraktekannya namun ternyata tidaklah mudah. Apalagi Karsa bukan seorang pegawai atau karyawan di sebuah tempat usaha, karena sangat terbatas dari sisi legalitas. Iya, Karsa tidak punya Ijazah. Dia tidak mau makan hati karena ditolak saat melamar bekerja di sebuah perusahaan ataupun apa.
Hari ini adalah hari terakhir Karsa tidur dan bebas memeluk Kaisa. Diliriknya jam dinding dalam kamar, tepat pukul 12.30 WIB. "Ah, sebentar lagi Ibumu datang Nak", kembali Karsa berbisik sembari mencium pipi montok putrinya. Tak ada reaksi apapun dari Kaisa, mungkin karena sudah terlelap. Digunakannya waktu yang sebentar itu untuk membeli rokok di warung samping kos-kosan. Kemudian diseduhnya kopi hitam yang memang setia menemaninya saat bekerja. Karsa berjalan mondar-mandir tidak mengerti mesti bagaimana, gelisah makin mencengkeram dalam tengkorak kepalanya hingga seakan mempersempit jalan pikir diotaknya. Tiba-tiba dering Hp menyalak mengagetkannya. Karsa semakin gemetar ketika membaca nama yang memanggil di Hp, "Ibu Kaisa". "Aku sudah sampai Mas", begitu suara di hp itu. Karsa hanya bisa menjawab "Iya", dan langsung putus sambungan telponnya.
Bergegas dia menuju kamarnya, diangkatnya Kaisa yang masih tertidur pulas dan dipeluknya erat-erat. "Maafkan Ayah nak", isak Karsa. Karsa tak mampu lagi menyembunyikan air mata yang sedari tadi sudah memaksa untuk keluar dari lubang dimatanya. "Papa di surga, maafkan anakmu yang tidak bisa menjaga cucumu", dan makin pecah batinnya. Tanpa sadar Ibu Kaisa sudah ada di depan pintu kamar. Dengan sebuah tas besar untuk membawa semua perlengkapan Kaisa.
"Hai, sudah siap?", tanya Ibu Kaisa.
"Sudah, Insya Allah sudah", jawab Karsa.
"Sudah aku persiapkan juga semua perlengkapan Kaisa di tas", seru Karsa.
"Ya baiklah, berarti tinggal aku bawa ke mobil", sahut Ibu Kaisa.
Sejenak waktu suasana menjadi hening, Karsa masih memeluk erat putrinya yang tertidur. Ibu Kaisa seperti tidak mengerti apa yang harus diucapkannya.
"Semoga kekasihmu itu memberi ijin padaku untuk bisa menengok Kaisa setiap saat", Karsa mencoba membuka percakapan lagi.
"Iya, kami sudah diskusikan itu kok jangan takut", jawab Ibu Kaisa.
"Ya sudah, ayoo ke depan", Karsa mencoba mempercepat proses hatinya yang semakin berat.
Tiba di depan mobil Ibu Kaisa, Karsa kembali memeluk erat Kaisa. "Nak, Ayah sangat mencintaimu, karena itu pulalah Ayah perlu kamu ada dengan Ibumu. Kita akan berjumpa lagi secepatnya, semoga kamu memaafkan Ayah".
**
Setahun lebih beberapa hari, Karsa termenung memandangi laptop didepannya. Huruf-huruf yang menempel di layar tidak terlihat satu pun. Pandangannya masih teringat pada pertemuan terakhir dengan Kaisa kemarin siang. Kaisa masih takut setiap kali melihatnya, sirat matanya seperti tidak mau mengenal Karsa. Padahal pertemuan ini adalah pertemuan yang ke sepuluh kali dalam setahun ini, namun Kaisa tetap saja tidak mau disentuh sedikitpun olehnya. Mestinya anak akan kembali terbiasa setelah 24 jam bersama, namun tidak dengan Kaisa. Dia selalu menjerit bahkan berubah kasar setiap Karsa mencoba memegangnya. Semua rayuan untuk membuat Kaisa tersenyum juga tidak sedikitpun ada hasil.
Sekarang ini secara ekonomi, Karsa tak lagi kekurangan. Boleh dibilang sangat cukup karena usahanya sudah mulai berkembang kembali. Namun satu sisi ruang hatinya kosong, sangat kosong. Dia masih belum bisa mendapatkan kembali canda gurau putri mungilnya. Sorot mata Kaisa masih seperti menyimpan dendam. Karsa masih belum merasa lengkap karenanya. Semua usaha yang dilakukannya demi Kaisa dan untuk Kaisa. Bahkan dia mengesampingkan kehidupan pribadinya hanya karena berharap Kaisa.
"Maafkan Ayah nak, semoga suatu hari kamu memahami dan mengerti akan semua ini", tulis Karsa di buku pribadinya.
Depok, 2009
Untuk Putri Tercinta.
1 comments:
aku selalu kagum dengan kisah tali kasih antara seorang ayah dan putri kecilnya. cerpen yang indah. gaya bahasa, alurnya. sesuatu yang ditulis dengan hati, niscaya akan mengembalikan cinta itu ke asalnya.
Post a Comment