Monday, November 23, 2009

Nak, Ayah merindukanmu...

Merasakan dinginnya angin malam, Pak Pardi mengencangkan selimut yang selalu menjadi andalan kala malam tiba. Di teras kamar yang selebar gedung bioskop, asap rokok mengepul dari bibir samping mulutnya yang meruncing setiap kali menghembuskannya. Membentuk warna putih yang lama-lama terlihat seperti makhluk halus yang menghilang dengan sendirinya. Pardi mendesah dengan desahan yang aku rasa akan menakutkan ular yang suka mendesis. "Sudah 5 tahun aku tak juga bisa bercengkerama dengan Liana", terdengar lirih nada kecewa dari ucap Pak Pardi.

Beberapa hari ini Pak Pardi sering memimpikan Liana dalam tidurnya. Putri kecilnya yang sekarang sudah menjelma menjadi seseorang yang sangat dihormati oleh kolega dan teman-temannya. Sebagai Fashion designer yang hebat dan kreatif. Masih terekam dipikirannya, bahwa Liana adalah putri mungilnya. Yang selalu menurut untuk diajak bercanda, tertawa terbahak akan leluconnya sendiri bahkan sampai tergelak bila melihat gerakan apa saja yang dianggapnya lucu. Setiap hari minggu, Pak Pardi, Liana dan Bu Pardi selalu merencanakan agenda kecil yang menyenangkan. Entah itu dengan bepergian ke pantai, bukit-bukit atau makan siang di taman kota. Tanpa terasa sungging senyum merekah dibibirnya. Teringat betapa merdeka dan menyenangkan sebuah keluarga kecil yang selalu dirundung bahagia meski tetap dengan riak-riak kecil terkadang mengelus-ngelus hubungan Pak Pardi dan istrinya.

Hingga suatu hari, Pak Pardi mendapat kehormatan untuk menjabat ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin benar kiranya, hubungan keluarga yang harmonis akan sangat mendukung kinerja tulung punggung mereka. Mereka pun merayakannya dengan makan malam di tempat termahal yang belum pernah dikunjungi. Liana menjadi putri semalam karena malam itu dia dimanjakan sepenuh hati oleh Ayahnya. Bersama istri, dia merencanakan masa depan Liana dengan sebaik mungkin dalam sebuah catatan kecil untuk di simpan kemudian dalam kamar tidur mereka bahkan kamar Liana.

Ketika Liana beranjak memasuki usia SD, Ayahnya memasukkannya ke dalam sekolah dasar yang sangat besar namanya, tentu dengan harga yang sangat mahal pula. Namun semua itu sudah bukan sebuah masalah bagi Pak Pardi muda. Penghasilan perbulannya sudah sangat mampu untuk itu. Meski Bu Pardi hanya sebagai ibu rumah tangga. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Bu Pardi berusaha untuk bertugas dengan baik. Sebaik-baik seorang istri. Karena dalam pembagian tugas dia memegang peran sebagai pengawas langsung kehidupan Liana, tentu dia tak mau sedikitpun anaknya Liana menjadi tidak terkontrol. "Karena aku sangat menyayangi Liana", begitu jawab Bu Pardi selalu atas kekhawatiran sang suami yang selalu sedikit memprotes bila istrinya berlebihan dalam menyikapi Liana.

Perlahan Liana menjadi anak yang cerdas, namun penurut bila sama ibunya. Ibunya akan selalu ada bila Liana membutuhkan, dan tidak begitu bila dengan ayahnya yang selalu mengajarkan kemandirian dan sedikit keras. Liana sering sekali duduk sendirian dan menanyakan "Kemana Ayah bu??", bilamana sudah dalam seminggu tidak sekalipun menengok Liana meski masih dalam satu rumah. Kemudian Bu Pardi akan menyambungkannya kepada Sang Suami, "Ayah kan selalu capek Bu, begitu banyak pekerjaan di kantor". Jawaban yang selalu sama, bagaikan panjangnya rambut yang akan selalu tumbuh meski sudah di potong pendek. Bu Pardi pun mencoba menenangkan Liana diesokan hari, dikala mereka siap-siap sarapan tanpa sang ayah yang sudah hilang di telan debu kota.

*******

Kini Pak Pardi teringat kembali masa-masa lalu yang Indah, sementara istrinya sudah terlelap dalam keheningan mimpi di alam tidur. Begitu sulitnya dia mendapatkan waktu dari Liana, hanya untuk sekedar bercengkerama meski itu 5 menit. Terakhir kali dia mencoba menghubungi Liana. "Nak, Ayah merindukanmu", ucapnya membuka pembicaraan dengan Liana yang ada di seberang. "Ayah, Liana sedang sibuk sekali, lain waktu kita ketemu ya..", jawab Liana dari selularnya. Ayahnya terdiam dan merenung, apakah ini karena waktu dulu aku selalu menunda-nunda keinginannya untuk bermain bersama, bercanda bersama dan sekedar menemaninya melipat kertas?.

Tanpa terasa, pagi sudah mulai sedikit menyingkirkan malam. Dan Liana belum juga pulang.

Depok, 2009




Read More..

Sunday, July 12, 2009

Teras Waktu

Disini di teras waktu yang masih terus berputar, tiada berhenti untuk meninggalkan tulang-belulang hidup yang didalamnya terselipi picing pandangan akan kehidupan sosial yang semakin hari semakin menimpang. Duduk dengan pantat tiada menentu untuk menetap, entah dimana sebenarnya pantatku selayaknya berada. Tangan dan kakiku kaku layaknya Piala Sudirman yang hanya diperingati untuk perayaannya saja tanpa mengerti jejak langkahnya, dimana kemudian cerita bisa berlanjut dalam langkah kaki generasi penerus.

Aku tengadahi langit, untuk mencari secarik benang merah yang "mungkin" menghubungkan dari satu manusia ke manusia lain. Barangkali bisa aku temukan benang itu sewarna denganku hingga akhirnya aku bisa mengenalkan diri karena aku membutuhkannya. Betapa rumitnya menemukan simpul berwarna yang menarik perhatian dan bisa mengikatku untuk mati didalamnya. Pernah aku memakai cat warna untuk memoles benang yang tertangkap tangan, namun lama kelamaan warna itu memudar selayaknya cat yang terkena minyak tanah. Pernah juga aku tangkap paksa untuk membuatnya mengerti dan mengakui, namun tembakan yang menjawab. Seketika aku lari untuk mencari lagi. Tanpa terasa aku sudah berjalan sedikit jauh ke depan melebihi pikiran. Kembali aku mencari tempat duduk, tiada peduli berselimut permadani atau tidak namun terpenting aku dapati kenyamanan. Sudut kenyamanan yang tidak mempunyai bentuk serta presisi tertentu namun selalu membuat manusia sanggup untuk membunuh dengan menanggalkan sifat ketuhanannya.

Akhirnya aku putuskan untuk menanggalkan baju, pikiran dan otak dengan tetap memasang hati. Aku berjalan mengitari lingkaran biru tua yang damai dan tumbuh tepat di tengah alun-alun. Tanpa malu aku lingkari berulang-ulang dengan harapan lama kemudian lingkaran itu menjadi besar meski tanpa baju.

*[Kehidupan adalah bentuk kesalehan sosial. Manusia tidak akan mengerti rahasia Tuhan. Urusan Ibadah manusia dengan Tuhan adalah urusan pribadi masing-masing, namun urusan ibadah manusia dengan manusia yang lain adalah tanggung jawab kita bersama. <-- teks ini hanya sedikit mewakili arti dalam catatan di atas]

Read More..

Friday, June 26, 2009

Apa itu PUISI

Puisi - Adalah susunan kosa kata yang minim dengan pemadatan struktur yang dimanipulasikan. Menggunakan gaya tutur serta pelukisan yang dahsyat dimana mampu menggerakkan emosi pembaca. Puisi mempunyai bahasa yang lebih padat, lebih indah, lebih cemerlang dan hidup. Puisi juga mengandung kata-kata perlambang [metafora] dengan bentuk-bentuk instuisi yang mengekspresikan gagasan, perasaan dan emosi. Karena puisi [hendaknya] mampu menggapai secara ekslusif ke arah imajinasi dan emotif serta artistiknya alam pembaca.

Bagan sederhana sebuah puisi;

- Materi Isi

1. Gagasan
2. Perasaan <--- Alam serta peristiwa kehidupan [pengalaman]
3. Emosi

- Materi Bentuk

1. Kosa kata
2. Struktur


Entah itu di sebut kriteria puisi atau syarat sebuah puisi. Yang jelas bagi saya, saat puisi menyentuh semua aspek yang tertulis di atas maka sangat terasa indah bagi saya. Bagi saya, puisi begitu banyak perbedaan dalam cara mengapresiasikannya. Dan seperti itu pulalah keindahan dunia ini.

Sederhana sebuah puisi bisa menjadi sangat istimewa bila kita mampu menggambarkannya. Semakin rumit rahasia kata untuk di ungkap bisa menjadi sangat bagus bila memang kita mampu membuat pembaca merasa sebagai pelaku dalam penggambaran isi puisi tersebut. Dan sebaliknya.

Depok, 2009.
Read More..

Monday, April 27, 2009

Kisah Nyata "Tukang Loak"

"Permisiiiiiii...mas...permisiiiiii...."
Aku langsung tergegas bangun tanpa cuci muka, melirik jam dinding.. Ahhh..masih pukul 9, berarti aku sudah 2 jam tidur lagi.
"Ada yang bisa aku bantu mas.." tanyaku.
"Itu buku-buku dijual nggak mas.." tanya orang ini yang ternyata bekerja sebagai pengumpul barang bekas alias tukang loak bukan pemulung.
"Waduh mas, mending kalau mas punya buku-buku saya saja yang beli.." jawabku.
"Lah kok..??" Mas loak malah jadi bingung.
"Iya, kalau Mas ada buku-buku bekas yang masih bagus biar saya saja yang beli..." jawabku.
"Buat aku kirim ke Taman Baca di Cianjur kok Mas, aku bukan pengepul hahaha..." tawaku sembari mencoba menjawab pertanyaan dari kernyit dahinya yang memandang tajam padaku.
"Ohhh...memang seperti apa sih mas itu Taman baca?, kayak perpustakaan begitu??" kembali dia bertanya.
"Sebentar, kenalin dulu saya Kika, njenengan??" sembari aku sodorkan tangan dan mengajaknya masuk ke ruang tamu.
"Prop, tolong dong bikinkan teh buat Mas ini, Mas siapa tadi?, kan belum sebutkan ke saya", tanyaku sembari meminta pada temanku Edwin yang biasa aku panggil Propesor karena tipenya yang pemikir untuk membikinkan teh.
"Saya Mamat Mas", dengan malu akhirnya menyebut nama.
Aku ambil beberapa rokok dengan masih berbungkus rapi yang memang selalu aku sediakan untuk orang-orang seperti Mas Mamat yang mampir ke gubukku. "Silahkan ambil dulu Mas rokoknya.." pintaku. Sebelum akhirnya aku lanjutkan pembicaraan seperti yang tadi.

"Jadi Taman Baca itu Mas, semacam perpustakaan untuk anak-anak putus sekolah atau tidak mampu. Karena akses mereka untuk mendapatkan buku tidak mudah, jadi ya biarlah buku mendatangi mereka..begitu Mas Mamat..", ceritaku panjang.
Sembari menerima suguhan teh dari Edwin, Mas Mamat mulai menghisap rokoknya dalam-dalam. Tanda tanya besar dari gurat warna pertanyaan membahana siap digelontorkannya.
"Lah kalau saya Mas, bisa makan saja sudah bersyukur rasanya", jawabnya. "Apalagi dengan mikirin begini kayak Mas Kika" sambungnya.
"Wah Mas, saya ini bukan apa-apa, hanya menjalankan kewajiban sebagai makhluk Tuhan saja. Setelah Sholat, Zakat dan lain-lain terpenuhi berarti waktunya berpikir ke yang lain Mas", terangku.
"Saya pernah batalin berangkat haji gara-gara ketemu anak menangis buku-bukunya dijual sama ibunya ke tukang loak Mas. Dan saya juga tidak menyalahkan situasi ibunya" cerita saya.
"Jadi saya salah ya Mas begini ini?", tanya Mas Mamat.
"Wah ga ada yang salah Mas, itu tugas anda sebagai pedagang", buru-buru aku potong.
Setelah akhirnya ngobrol panjang, Mas Mamat meneruskan perjalanannya berburu buku dari rumah ke rumah. Dan aku kembali menjadi manusia Autis di depan komputer. Ngurusi Alurkria, ngurusi Taman Baca, ngurusi Diskusi Penyair dan tentunya tetap dagangan Website dengan sesekali melirik kekasih baruku si cantik fesbuk. Selagi enak-enaknya utak-atik photoshop mendesain web pesanan Mbak Nia Febriana, tiba-tiba ada ketukan lagi di pintu pagar.
"Permisiiiiiiiiiii...mas...ada buku-buku bekas nggak?" teriak seseorang langsung menodong persis rambo meneriaki pasukan afganistan yang bersembunyi di gua tanpa peduli ada orangnya apa tidak.
Aku julurkan kepalaku sembari senyum-senyum sendiri. "Iya Pak??", tanyaku.
"Buku-bukunya di jual apa nggak Mas?" tanyanya.
Kembali seperti kejadian Mas Mamat, saya persilahkan masuk dan berbincang-bincang dulu dengan topik kurang lebih sama, sekitar 10 menit kemudian akhirnya Pak Mo keluar meneruskan perjalanannya.
Akhirnya kembali lagi saya menghadap ke depan komputer. Kembali meremas-remas kegiatan tanpa rutinitas yang tak pernah aku tahu kapan akan berakhir. Dan tiba-tiba datang lagi pengumpul loak mengetuk pintu pagar.
"Aha..ini sudah ketiga kalinya hehehee.." batinku tersenyum.
Dan kejadian sama dengan Mas Mamat dan Pak Mo pun berlangsung, namun ini lebih singkat karena tawaran teh dan rokok satu bungkus juga ditolaknya.
"Ya sudah, mungkin karena masih buru-buru", aku mencoba menghibur diri.
Eh, belum juga 5 menit aku duduk sudah datang lagi yang lain, jadi curiga diriku ini melihat dua kejadian hampir sama dengan waktu berdekatan. tapi coba kesampingkan dulu, dan aku pun menemuinya. Hampir sama persis dengan yang sebelumnya hanya berselang 5 menit sudah langsung "terima kasih mas", tapi kali ini rokoknya diterima..
Dan berlangsunglah kejadian ini selama 5 kali, hingga 5 kali pula aku harus bolak balik duduk kembali di bangku merah yang tidak pernah menjerit aku duduki dengan keras-keras.

Hari berlalu, malam pun mengganti jubahnya menjadi pagi. Jam 7 pagi yang seakan menjadi awal kerinduan setiap harinya. Menyeduh Teh, mengambil batangan rokok dan menghidupkan musik keras-keras punyanya Grup Band "Extreme" favoritku, kemudian ambil bukunya nietze. Menikmati hidup.

"Assalamu alaikum Mas Kika",
"Wa alaikum salam..woyy Mas Mamat, apa kabar?" bergegas aku membuka pagar.
"Saya sebentar saja kok Mas, mau nitip buku buat anak-anak Taman Baca", katanya.
"Loh Mas Mamat ga usah repot, saya beli saja", jawabku buru-buru.
"Nggak bisa mas, saya sudah putuskan untuk menyumbangkan buku-buku yang saya beli setiap saya sudah membeli buku sebanyak 10 kali", ujarnya pelan tapi mantap.
"Aduuuuuh..mas Mamat beneran nih?", aku coba meyakinkan.
"Beneran mas, saya sudah diskusi semalam sama istri saya, istri saya mengatakan agar saya tidak jadi orang jahat yang mengambil buku-buku dari anak-anak yang seharusnya bisa menikmatinya", cerita mas Mamat panjang.
"Dan ini buku-bukunya mas, seadanya dari kami sekeluarga", penuh senyum ikhlas dimatanya.
Aku peluk mas Mamat, tiada bandingan rasanya keihlasan mas Mamat dimataku. Sembari aku berujar, "mas Mamat, saya akan selalu bilang ke anak-anak di Taman Baca untuk mendoakan dirimu dan sekeluarga disetiap ibadahnya".
Setelah mas Mamat pergi, aku berpikir keras apa yang bisa aku lakukan untuknya, bilamana dia seorang pebisnis, mungkin dengan mudah aku bisa menggantinya dengan membuatkan website. Tapi ini...susah sekali menjawabnya. Baginya uang 5000 sudah merupakan kekayaan, baginya makan dengan lauk ayam sudah merupakan kemewahan. Namun dengan ikhlas dia membantu menyumbang buku-buku hasil perjuangannya memutari setiap rumah.

(kisah ini nyata, saya tulis sekedar untuk berbagi)
Read More..

Thursday, April 16, 2009

Memoar at Stasioen Toegoe - I -

Pada sebuah malam, pasca gempa di Wilajah Propensi Bhantoel, Kota Pathoke, Kecamatan Gunung Khidoel. Saat sedang membersihkan puing-puing sisa penyerangan gempa beberapa hari yang lalu, mendadak ada pangilan darurat dari rekanan meminta bantuan ekstra besar di lokasi kota Semhine. “Mak ya, mak ya…segera kontak kemari……dibutuhkan tenaga–tenaga ekstra”.
Lalu saya pun menjawab panggilan tersebut “Ya, diterima…tenaga siap satu gerobak”
Melajulah saya berserta teman sesama ahli bangunan ‘teknologi sipil’ yang sangat ektrim produktifitas [namanya saja kuli batu].

Sesampainya disana, ternyata ditemukan salah satu korban yang terkurung oleh reruntuhan bangunan, hanya ada satu celah dan sepertinya cukup utk dilewati seseorang yang berpostur kecil.
“Broer, ente bisa coba masuk melalui celah itu ?” Tanya saya pada teman satu tiem.
“Oh, bisa man !” jawab teman saya semangat.

Segulung tali tambang untuk layar perahu pun. kami julurkan ke bawah dan dengan sigapnya pula teman saya meluncur turun ke bawah lokasi tersebut. Ternyata ada seorang lelaki dewasa yang terjebak dalam reruntuhan tersebut. Disampingnya ada sebakul nasi lengkap dengan lauk pauknya.

“Kawan, anda tidak apa-apa ?” Tanya teman saya pada lelaki tersebut
“Ga apa apa kok mas, aku sembunyi dibawah meja saat dateng serangan gempa waktu itu” Tawab lelaki itu pada teman saya.
“lalu dari mana nasi sebakul dan lauk pauk itu asalnya ?” Tanya teman saya lagi.
“Oh, ini mas….nasi dan lauk pauknya, aku dapatkan dari sana” Jawab sang lelaki.
Teman saya menengok. “Haaaaaah…duan tjuuuuk !” Teriak teman saya dengan suara sampai terdengar keluar.
Saya yang di atas mau tidak mau penasaran dan berteriak keras untuk bertanya "Kenapa Bro?", "Ntar saja ceritanya setelah di atas", Jawab teman saya yang di bawah tak kalah keras. Selang beberapa saat, keluarlah teman saya beserta lelaki dewasa yang berdandan sensual.

Ternyata di balik tripleks tersebut terdapat sebuah dapur dengan ukuran luas mirip dapur umum. Sungguh sebuah persiapan yang sangat hebat, begitu terjadi serangan gempa lelaki ini langsung sigap mengamankan perbekalan makan yang mungkin disiapkannya untuk seminggu ke depan. Dan sungguh seorang lelaki yang sangat memanjakan diri untuk urusan makanan, terbukti dengan mendirikan ruang dapur khusus di balik kamarnya.

Hingga kini saya masih ingat akan sosok seorang lelaki dengan rambut panjangnya itu. Begitu pula dengan teman saya yang menamakannya lelaki cantik. Bukan tanpa sebab teman saya menyebutnya begitu, karena saat itu selain berkutat di dapur, lelaki ini juga suka akan olesan lipstick biru gelap dibibirnya itu. “Gaya gothic dan sensual” kata lelaki cantik kala itu. Sungguh lelaki yang sensual, terbukti meski terkena gempa pun keperluan pribadinya masih banyak yang utuh. Tidak hanya makanan, wewangian juga masih terlihat utuh.

Kini sejak beberapa tahun kemudian, kami berdua bernostalgila di resto bintang tujuh depan ‘stasiun tugu’ dengan master ‘sego meong’ monsinyuer ‘le k mante’ dari sebuah kota di Paris [parangtritis]. Disaat kami sedang asyiik menikmati suguhan nasi putih dengan irisan tuna bakarnya, sembari menyeruput teh kental ala ‘inep’ mendadak kami dikagetkan akan kehadiran sesosok lelaki berambut panjang dengan rombongan orchestra ala malboro light [bergaya koboi malioboro]. Dandanannya lebih macho dengan ikat pinggang kulit besar dan tonjolan HP ‘sirip hiu’, plus lipstick biru tuanya.

[Bersambung]
Stanis and Me. Read More..

Menulis itu untuk mengajak, mempengaruhi dan menyebarkan damai hati..

Sepagi tadi, ada rasa menggugah untuk mengarungi tapak-tapak yang meninggalkan tilasnya di catatan-catatan semua teman-teman baik di fesbuk maupun di buku. Begitu banyak rupa begitu banyak wajah, tidak terbilang keindahan keindahan yang terbalut dari ketikan ketikan teman-teman. Dari mulai kamuflase topeng, ketelanjangan yang telanjang hingga gelisah gelisah yang sudah beranak pinak berbaris rapi. Tidak terlupa ada juga yang mengecat sendiri wajahnya menutup sedikit coreng di hidung ataupun tahi lalat di atas alis kakunya.

Mulai dari seniman tulis, seniman ekonomi hingga seniman musik juga seniman kehidupan terpampang hangat seperti hadirnya sejumput teh hangat dipagi hari ditemani tempe goreng yang hangat pula. Seakan mengayuh waktu ramai-ramai menghias dinding dan catatan catatan putih yang dibangun dengan keahlian algoritma yang sangatlah luwes dan episentrum ini.

Dalam buku Amalia Hazen "Berkaca dengan Bintang", aku terima sebuah realita kerinduan teramat dalam yang menusuk mengiris-iris sejumput iman dalam hati untuk terus menambal layaknya tukang tambal bagi hati yang berlobang di ruh suci yang setia menemani kehidupan. Sungguh keindahan religi terpampang jelas bila terselami. Khrisna Pabichara dalam "12 Rahasia Pembelajar Cemerlang" yang bermaksud menggugah kemajuan pendidik dalam mendidik sembari tidak mengeluhkan apa yang sudah terjadi seakan menguliti satu demi satu idiom kaku yang selama ini berlangsung dan tertanam di pikiran. Gores masa lalu menjadi nuansa kental yang mempengaruhi semangat untuk merubah cara pandang dalam mendidik generasi-generasi yang akan datang. Keberhasilannya mengungkap sisi kehidupan cara belajar yang lebih cerdas namun ringan adalah buah kehidupan sejati darinya yang inspiratif.

Juga ada terpampang kegelisahan akan situasi terpinggirkan yang dikemas dengan lugas oleh Sawali Tuhusetya dalam "Perempuan Bergaun Putih" nya. Seorang pengajar sebuah sekolah menengah atas yang selalu obsesif akan kehidupan masa sekarang dan selalu menggelitik pikirannya untuk memperjuangkannya melalui tulisan. Sebuah gambar nyata di kehidupan dimana sering terjadi kemewahan-kemewahan yang tidak perlu untuk ditegakkan. Politik Tuan Besar dan Nyonya Besar hanya untuk menyenangkan hati Tuan Tua dan Nyonya Tua yang bertempat di sudut sebuah gedung mewah dengan selalu berkacak pinggang menyerupai Gatotkaca pikun karena sering memberi perintah tak wajar. "Marno Tembem tak meninggalkan secuil tanahpun", ungkap Sawali. Sosial adalah penting, begitu pesannya.

Seorang pemuda sederhana penuh semangat, Gemi Mohawk. Mengajakku untuk bercinta dengan cinta itu sendiri sembari memahami cinta itu untuk berlanjut. Kegelisahannya terpampang jelas akan Jakarta yang menjadi sentral di Indonesia ini. "Aku adalah rangkaian kata-kata, kau adalah titiknya". Seakan mengajak tubuh untuk terus bergerak menjilati rangkaian demi rangkaian kehidupan nyata dimana titik adalah semua dan semua punya titik. (Sirami Jakarta, halaman 13).

Menulis disini pun tiada kalah garang tersaji. Ali Salim menuliskan "Apakah aku berubah" dengan memberi sentuhan glamornya setiap detail tubuh manusia. Daging, tulang, darah, mata, rambut hingga cairan tanpa warna dalam tubuh telah bisa menjadikan bukti bahwa manusia adalah sempurna setelah otaknya. Menangkapku untuk mensyukuri atas keringanan hidup yang telah diberikan olehNya di setiap hela nafas dan helai langkah.

Hudan hidayat yang selalu memberi pengertian akan banyaknya sisi pandang kehidupan, keringanan berpikir dengan menjadikan diri sendiri tuhan kecil di Dunia sebelum benar-benar menghadap Tuhan. Maka dijawab oleh Tanadi Santoso, bahwa diri kita adalah Boss bagi diri sendiri dan selayaknya untuk bebas terbang dengan kebebasan finansial itu sendiri. Korelasi syiar berbeda warna namun satu tujuan.

Saut situmorang yang selalu "bergembira" membawa suasana lain yang bila di pandang dengan hati jernih akan kembali ke tempat yang sama, yaitu mencintai kemajuan dunia tulisan. Tentunya dengan sudut pandang masing-masing sisi pandang mata yang memandang. Kurniawan Yunianto, Irfan Darsina dan Fitrah Anugerah juga menyudutkan cinta untuk terus menjadi cinta dan jangan berubah benci.

Ya, dan semua adalah untuk maju ke depan.

Koelit Kecil, Andreas T Wong dan Tory Suryo, bergejolak marah melawan keseksian parodi pengelola negara yang memang seksi hingga mampu menjadikan para penyelenggaranya duduk mewah dengan pelayan cantik dan cangkir berlian. Tidak ketinggalan pemuda penuh bakat Joshua Liem, bersyiar atas apa yang terjadi pada dirinya dan lingkungan sosialnya. Dengan harapan tidak lagi terjadi seperti apa yang terjadi pada dirinya. Ahh...Joshua, dirimu seperti diriku di masa lalu. Belajar lebih dalam ya Josh.

Bila hati mau memahami semua inti tulisan yang tersebar di sekitar mata, belajar menjadikan hidup lebih bagus menjadi lebih mudah. Seperti apapun itu kotak dan sekat yang tercipta dengan sengaja maupun tidak sengaja, hendaknya tepiskanlah dulu. Kembalikan ke satu tujuan bersama, M A J U. Ya, kemajuan untuk lebih maju ke depan. Indonesia ini membutuhkan tangan-tangan seperti anda semua disini. Jangan biarkan terjadi, saat kita sedang ribut tiba-tiba ada "karya" dari negeri entah berantah yang menikam dan menggemparkan masuk ke negeri kita. Mari saling genggam tangan dalam perbedaan indah ini. We shall overcome and walk hand in hand. Bukankah pernikahan untuk menyatukan perbedaaan?.

Betapa lengkapnya kehidupanku ini, dikelilingi orang-orang hebat bukan orang-orangan. Dari religi, sastrawi hingga ekonomi mampu memberikan vitamin bergizi bagi otak dan hati. Tulisan-tulisan ini itu telah menggugahku, bergerak dan maju. Karena inti tulisan adalah mengajak, mempengaruhi dan menyebarkan hati untuk lebih dahsyat lagi maju ke depan. Pertengkaran bukan sebuah jawaban dari keinginan untuk maju. Jadikan dunia menulis ini sebagai bagian kemajuan bangsa.

Indahnya berbagi, indahnya menulis.

Kita adalah air, rumah kita air terjun.

Note;
Aku pernah bermimpi para tokoh tulisan di Indonesia ini bersatu mengesampingkan ego pribadi demi hal yang lebih besar dan membangun ke depan lebih jauh dengan tetap berjalan sesuai kemampuan masing-masing. Mustahilkah kiranya?
Read More..

Monday, March 9, 2009

Tatkala aku susah berteman.

Pertanyaan sederhana, lugas dan enak untuk dipikir. Baik diri sendiri maupun beramai-ramai. Hampir setiap orang mengalaminya, dari rumah bilik bambu hingga tembok tebal berhias kaca seharga 20 digit. Kesulitan diri sebagai manusia yang merasa utuh, dan terkadang sulit menelaah apa sebenarnya terjadi telah membuat otak kanan-kiri tertutup. Tak terkecuali diriku ini, dengan keremangan hari hari tanpa orang tua, ditambah budaya masyarakat yang (masih) sering mengkambing-hitamkan anak-anak berbaju jelek dan bermuka kusut.

Teman? bisa menjadi lawan, lawan yang buruk, lawan yang tidak mengenakkan, lawan bicara, lawan curhat, lawan berbisnis, lawan tidur, lawan menulis, lawan berkelahi, lawan chatting, lawan blog, lawan fesbukan hingga lawan-lawan lain yang akan selalu menjadi sisi lain dalam kehidupan pribadi masing-masing. Dan bila kita menambahkan kata "baik" dibelakangnya, maka selesailah sudah derita dari kemarahan dan kecurigaan.

Tatkala teman susah dicari? maka ambigulah yang menyertainya. Karena setiap pribadi mempunyai aura masing-masing untuk bisa mendekat dan mengenali temannya. Kecepatanku untuk berteman dengan sesama seniman dibanding teman berbisnis jauhlah berbeda. Namun pintu tidak menutup serta mengunci ketukanku untuk berlencana sama dengan para pebisnis. Disini sedikit ada jawaban, bilamana semuanya adalah tergantung diri sendiri.

Diri sendirilah letak kesalahan dan kebenaran yang mengukir bangunan pertemanan yang berdiri megah disekeliling lingkungan. Pribadi lain yang berdiri tegak disamping, hanya perupa yang bertuliskan faktor pendukung yang juga bersifat sedikit melukis dengan sedikit ramuan warna-warninya dalam sebuah pertemanan. Menghilangkan "tuntutan" terhadap teman juga merupakan elemen cetak biru yang mesti menjadi pegangan otomatis dalam menganggap seorang teman.

Teman baik tidak untuk dicari, karena mereka akan mendatangi. Jujurkan hati, terima apapun bentuk teman, sejelek apapun teman, segila apapun teman, sehebat apapun teman, sejahat apapun teman!. Ikhlas. Karena teman tetaplah teman, dan kita akan berkumpul kembali dengan mereka saat di surga nanti.



Note:
Aku menulis karena anda semua adalah temanku, meskipun aku belum tentu teman anda.
Read More..