Anakku, hari ini aku kembali berbicara dengan Mamamu. Aku hanya menuntut waktu agar bisa diperbolehkan menjengukmu sewaktu-waktu. Tanpa harus menunggu hari minggu ataupun Mamamu ada waktu. Namun sepertinya masih gagal, dan lagi. Maafkan aku yang kurang keras berjuang untuk mendapatkanmu kembali.
Anakku, perjalanan hidupku terasa tak lengkap tanpamu. Karir, nama besar dan kekayaan, tak bisa mengobatinya. Kamulah alasanku berusaha keras, kamu pulalah hal utama yang membuatku bekerja keras. Kamu sebagai pemantik yang membuatku terbakar untuk membuat semua ini menjadi nyata, senyata senyum mungilmu itu. Anakku, sungguh aku ingin sekali mendengar celotehmu "Papa mana Ma? atau Papa pulang ya Ma?". Dimana itu hanya aku dengar dari cerita Mamamu setiap kalian berdua jalan-jalan ke Mall atau selepas aku pulang menjengukmu.
Anakku, aku tak bisa melakukan apapun saat ini. Tempatmu berbaring tidur dan bercanda tawa di setiap pagi pun aku tak tahu. Mamamu begitu pandai menyembunyikanmu, dan aku seperti terkena pagar listrik bila ingin mencarimu. Karena aku selalu kembali sadar bahwa kamu lebih baik sama Mamamu saat ini. Jauh didalam hati, aku selalu berdoa agar doaku bisa menemukanmu. Semoga hal pertama yang menciummu disaat kamu beranjak tidur adalah doaku.
Anakku, maafkan papamu ini bila mungkin nanti Tuhan tetap tidak mengijinkan kita berkumpul dalam waktu dekat ini. Papa akan terus berdoa agar kita bisa bersama di suatu hari nanti. Di setiap detak jantungku yang berlompatan kesana kemari, namamulah yang terdengar sebagai nyanyiannya. Kamu selalu duduk di pelupuk mataku, bagaimana aku tidak terus menerus merindukanmu anakku. Salahkanlah aku suatu hari, marahilah aku suatu hari nanti tapi mohon jangan kamu benci Papa. Kamu boleh pecahkan semua benda yang ada di sekelilingmu, boleh pula kamu layangkan caci maki kepadaku tapi mohon jangan benci papa. Jangan arahkan kebencianmu pada papamu ini, Papamu manusia biasa nak, manusia yang banyak kesalahan. Tapi Papa pula yang akan pertama menangis bila kamu sakit, Papalah yang akan pertama bersedih bila kamu menangis.
Alia anakku, malam ini aku tuliskan ini dengan airmata berderai. Betapa aku merindukanmu. Betapa aku ingin memelukmu, menciummu dan tidur disampingmu seperti dulu. Merasakan kakimu yang menendang mukaku, mendesakku hingga jatuh ke bawah ranjang. Betapa aku ingin memegang jemari lentikmu, membelai rambutmu dan merasakan desah nafasmu dipipiku. Jangan benci papa nak, jangan kamu tatap aku dengan mata benci. Mohon, jangan sampai terjadi itu di kemudian hari. Ya Tuhan, kepadaMu aku memohon, selamatkan Alia dari kebencian dan dari surga dunia yang fana ini.
Alia anakku, meski perasaan cinta papamu terhadap mamamu sudah tak ada. Namun demi mendapatkanmu kembali, aku rela meminta bahkan mengemis agar kamu kembali. Yang tentunya dengan mengajak mamamu kembali berkumpul bersama papa. Anakku, banyak teman-teman papa yang berargumen, bahwa perpisahan aku dan Mamamu ini dikarenakan aku. Semua itu salah, Mamamulah yang meninggalkanku. Karena dulu Papa ini miskin dan tidak punya uang. Anakku, maafkanlah mamamu juga atas semua kejadian ini. Hingga kamu akhirnya menjadi korban. Mungkin mamamu belum cukup dewasa untuk memahami kehidupan yang sebenarnya. Dengan sangat Papa memohon kepadamu, apapun yang terjadi suatu hari jangan menjadikanmu tumbuh rasa benci kepada kami berdua.
Alia anakku. Papa bisa saja menghilang darimu, namun kamulah satu-satunya cinta dihatiku. Kamulah yang menjadi semangat untuk terus hidup, sembari terus berdoa agar kita ketemu kembali ketika kamu besar nanti. Dengan sengaja Papa menjadikan diri untuk terkenal dan dikenal, hanya dengan satu alasan "agar kamu mudah mengenali dan mengenalku". Sehingga kamu mudah untuk menemukanku.
Alia anakku. Berkembanglah dan teruslah mekar. Kamu adalah serpihan surga yang dikirim untukku. Papa mencintaimu Zaneta Putri Aalia Kika.
Depok, 2010.
Tuesday, June 22, 2010
Alia anakku.
Posted by
Cangkang
Tags :
Related : Alia anakku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
Aku menangis membacanya,karena pernah menyaksikan keadaan seperti ini. Ya Allah semoga ada jalan bersatu kembali.. percayalah seorang anak tidak akan membenci ayahnya, jauh di dalam hatinya selalu merindukannya..
ponakanku, buktinya. dia selalu minta tolong padaku "budhe tolong telponin bapak ya, yaya kangen" hati siapa yg tidak menangis mendengar rintihan anak sekecil itu? hanya saja orang dewasa tkadang tdk mau memahami perasaan anak sekecil itu, akupun harus diam2 menghubungkan mereka untuk sekedar berbicara di telpon..
Alia pasti juga kerasa kalo papanya kangen..dan suatu saat nanti akan mengerti..
sial ! aku menangis membacanya...
semoga kau dan putrimu bahagia. juga mantan istrimu dilapangkan dadanya. amin.
Post a Comment